Selasa, 31 Januari 2012

Takluknya sang pendusta

Langit malam masih saja gelap dan sepi. Tak ada cahaya bulan yang menyinari bumi. Mendung masih menggumpal dilangit. Namun hujan tak jua turun ke bumi.  Hanya mendung saja. Malam begitu pekat dan dingin.
    Disaat yang sama, hatiku tengah berkecamuk. Rasa marah dan dendam masih bercokol di hati. Masih terbayang tadi siang di balai desa, saat aku dipermalukan oleh si Kiai yang baru datang beberapa minggu yang lalu. Dia memang baru datang belum lama ini. Namun pengaruhnya begitu kuat dan merasuk ke sebagian besar warga kampung ini.
    Masih teringat jelas ketika dia memperkenalkan diri dengan mengundang masyarakat untuk makan bersama di rumahnya. Ia mengadakan semacam selamatan yang dibarengi dengan pembacaan doa. Aku sendiri tak datang ke rumahnya. Masih ada “pasien” yang harus kutangani.  Aku dengar dari masyarakat yang datang, katanya mereka ramah sekali. Cara mereka memperkenalkan diri begitu santun dan menjunjung tinggi norma-norma adat “ketimuran”.
    Awalnya aku bisa menghormatinya sebagai warga yang baru dan berlaku sopan padanya. Namun belakangan aku merasa bahwa dia mulai mempengaruhi masyarakat dengan menghasut mereka untuk meninggalkan apa yang telah aku tanamkan kepada mereka selama ini.
    Perlahan-lahan, murid-muridku mulai meninggalkan padepokan dan meninggalkan ajaran  yang telah kutanamkan dan sejak dulu mereka yakini. Ia juga mulai mengatakan kepada masyarakat bahwa apa yang aku ajarkan selama ini salah. Bahwa semua itu menyimpang dari apa yang ia katakan iman.
    Aku makin geram dengan kejadian tadi siang ketika ia membuat aku skak mat saat diskusi di balai desa tentang pembuatan  sekolah di tempat yang selama ini aku gunakan untuk melakukan ritual dan latihan murid-muridku. Alasannya adalah bahwa tempatnya strategis. Tepat berada di tengah-tengah desa. Dapat dijangkau oleh mobil roda empat dan tempatnya juga datar.
    Sebelum dia datang, rencana itu sudah dirapatkan dan sempat dipending. Permasalahan tempat yang menjadi kendala pada waktu itu. Sudah ada rencana akan didirikan di dekat rumah kepala desa yang dekat dengan jalan raya. Tapi memang jauh dari ujung desa yang berada di perbatasan.
    Dendamku pun makin kuat setelah mengamati keadaan ini. Orang yang baru saja datang ke desa ini akan menyingkirkan aku yang sudah lama tinggal di sini dan menguasai daerah ini. Bahkan seolah tak menganggapku sama sekali. Ia telah mempengaruhi masyarakat, mengambil alih murid-muridku dan yang terakhir ia telah mempermalukan aku di depan umum.
    Di tengah malam yang begitu pekat itu, aku mulai menjalankam ritual dan merapal beberapa mantra yang biasa kugunakan untuk menyerang orang-orang dari jarak jauh. Tujuanku tak lain dan tak bukan adalah si Kiai itu.
    Sementara di luar perlahan gerimis mulai menyapa. Gemuruh menampakkan cahayanya di langit. Sekilas terang dan kembali gelap. Hanya suara katak yang masih bersahutan.  Tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing yang begitu panjang dan menyedihkan. Seolah ada sesuatu yang kasat mata sedang terjadi di desa itu.
* * *
    Hari ini hari Jumat Kliwon. Jari yang tepat untuk melancarkan serangan kepada si Kiai kurang ajar itu. Aku sudah memperhitungkan hari ini. Dan inilah hari yang tepat. Tepat tanggal 1 Syura, Jumat Kliwon, setelah kuhitung dari “weton”nya dia, ini juga hari yang tepat untuk menyerang. Karena ini adalah hari naasnya dia. Inilah hari yang kutunggu-tunggu. Segala alat dan bahan telah kusiapkan. Semua yang kubutuhkan telah tersedia di atas meja pemujaan.
    Aku masih teringat ketika malam itu aku menyerangnya. Aku memang belum mempersiapkannya secara matang. Hasilnya sungguh diluar dugaanku. Aku gagal total. Mantra telah kubaca dengan baik. Jin yang kupanggil pun sudah memenuhi undanganku. Segera kusuruh dia untuk menyerang. Tanpa menunggu lebih lama, ia langsung berangkat.
Namun di tengah ritual, aku merasakan ada hawa dingin yang merasuk dan terus menusuk. Bersamaan dengan itu, ada angin yang bertiup sangat kencang dan mengobrak-abrik meja pemujaanku. Puncaknya, kurasakan dadaku sesak, seolah ada yang menghantamku dengan sangat keras. Nafasku terputus-putus dan aku muntah darah. Lalu jin yang kusuruh kembali dengan keadaan luka parah. Untung saja aku masih bisa menghalaunya saat ia hendak menyerangku, jadi aku terhindar dari serangannya.
Malam ini aku telah siap. Kemenyan, bunga tujuh rupa, dupa, darah ayam cemani dan segala perlengkapan pemujaan telah kusiapkan. Aku tidak mau gagal lagi kali ini. Cukup kemarin saja aku mengalami kegagalan. Itu tak boleh terulang kembali. Tidak boleh, pekikku dalam hati. Aku sudah yakin bahwa aku akan berhasil. “Rasakan pembalasanku Kiai kurang ajar!” makiku kesal.
Perlahan waktu merambat dan bergulir menyongsong tengah malam. Kuawali ritualku dengan membakar kemenyan dan dupa. Aromanya segera mengisi ruangan tempat pemujaan. Setelah itu, mantera kurapalkan. Kupanggil jin suruhanku yang selama ini belum pernah kupanggil karena memang belum kubutuhkan. Ini khusus untuk keadaan terdesak dan jika yang lain sudah tak kuasa lagi. Ialah jin andalanku. Si Ifrit.
Kuambil boneka di sampingku ada 3 buah. Kubacai mantra pada ketiganya. Satu kubayangkan si Kiai, satu istrinya dan satu lagi anaknya. Aku rencanakan akan kumulai dari anaknya, kemudian istrinya dan terakhir si Kiai jelek itu. Kuambil jarum dan kupegang di tangan kananku. Sedangkan boneka yang kecil kupegang di tangan kiri. Boneka itu perlahan-lahan aku gerakkan di atas kepulan asap kemenyan. Ke kanan dan ke kiri. Jarum yang kupegang kutusukkan di bagian kepala yang berarti si Jin yang kusuruh menyerang kepala anak si Kiai itu. Begitu ringan kurasakan. Namun kupastikan disana dia merasa sakit yang luar biasa.
Setelah itu, kutusukkan di bola matanya yang sebelah kiri. Namun aneh. Kurasakan berat dan panas sekali. Makin lama makin berat dan panas. Aku tak kuasa lagi dan kulemparkan ke depan. Bersamaan dengan itu, terjadilah ledakan yang dahsyat dan tubuhku terlempar ke belakang. Aku kembali sesak dan muntah darah. Nafasku tersengal-sengal.
 Aku segera bangkit dan kembali menata posisi dudukku. Kini aku tak lagi mewakilkan tugas itu kepada Ifrit. Aku lawan sendiri si Kiai itu. Segera aku konsentrasi dan merapal mantera. Jiwaku melayang meninggalkan ragaku.
Aku menemui Kiai itu dalam alam yang tak terlihat oleh mata.
“ Hei Kiai kurang ajar, mengapa kau ganggu aku?” makiku padanya.
“Maksudmu apa Pak?” tanyanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Kedatanganmu telah merusak tatanan di desa ini. Kamu telah menganggap aku salah dan juga mengambil banyak muridku untuk kemudian kau jadikan muridmu. Bahkan kau telah mempermalukan aku di depan umum. Dan yang lebih kurang ajar lagi kaulah yang memprovokasi masyarakat untuk membangun sekolah di tempatku. Sebenarnya apa maumu heh?!”
“Oh saya mohon maaf kalau itu telah menyakiti hati Bapak. Namun tujuan saya bukan untuk merusak itu semua. Saya hanya menyampaikan apa yang telah saya dapatkan di pesantren dulu. Saya hanya meluruskan apa yang belum lurus. Membenarkan apa yang salah. Saya hanya menyampaikan risalah yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Hanya itu saja Pak, tidak ada maksud yang lain.” Ia menjelaskan panjang lebar.
“Tak usah banyak omong anak kecil. Aku jauh lebih tua darimu. Aku tak butuh ocehanmu itu. Aku butuh matimu! Aku tak butuh kamu! Rasakan ini!!” teriakku sambil merangsek maju untuk menghantamnya.
Ia tidak memberikan perlawanan. Ia hanya menghindar saja.
“Maaf Pak, saya tidak bisa berkelahi. Saya hanya hamba Allah yang tak bisa apa-apa. Hanya menyampaikan risalah Tauhid.”
”Ah, berisik. Rasakan ini!” aku maju dan menghantamnya. Namun ia berhasil menghindar.
Aku terus menyerangnya. Namun tak sekalipun dia menyerangku. Ia hanya menghindar saja. Lama-lama aku jadi lelah sendiri. Aku mundur beberapa langkah. Mempersiapkan serangan lagi. Ia juga mundur selangkah. Namun ia masih tetap diam. Ia masih menghitung-hitung dengan tasbihnya.
Aku segera maju dan menghantamnya. Ia sama sekali tidak menghindar. Ia tetap pada posisinya dan terus menghitung. Namun anehnya, aku tak bisa menyentuhnya sama sekali. Aku seolah menghantam air. Tubuhnya hanya seperti bayangan yang tak dapat disentuh. Hanya dapat dilihat saja.
Aku kelelahan dan mundur beberapa langkah. Aku merapal mantera untuk menghadapinya. Kurentangkan tangan dan kemudian kutarik ke atas, lalu kutangkubkan di depan dada. Aku putar telapak tanganku. Terlihat ada cahaya yang berwarna merah menyala. Kemudian aku lemparkan cahaya itu ke arahnya. Cahaya itu seperti asap saja yang melintas lalu.
Akhirnya dengan sisa kekuatanku dan dendam yang menggunung, kurapal mantra jurus pamungkas. Kukumpulkan di depan dada dan kulempar lagi. Kuarahkan ke padanya. Belum sampai menyentuh tubuhnya, cahaya itu terpental dan kembali mengarah kepadaku. Aku tak kuasa menghindar dan jurus pamungkasku kembali kepadaku.
Aku merasa sesak. Aku muntah darah banyak sekali. Nafas ini begitu memburu. Seluruh tubuhku rasanya sakit sekali. Tulang-tulangku rasanya remuk semua. Kepalaku pusing sekali. Seolah mau pecah. Mataku berkunang-kunang. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi kepadaku kemudian. Pingsan.
Sementara meja pemujaanku hancur berantakan. Seluruh kemenyan dan dupa serta peralatan yang kugunakan hancur. Tak ada satupun yang tersisa.
Di luar, suara minta tolong terdengar diantara suara kentongan yang bertalu-talu. Rumah tempat pemujaanku terbakar habis. Rumah itu memang terbuat dari kayu, jadi ada api sedikit saja membuat rumah itu cepat terbakar. Sementara itu, aku masih dalam kondisi pingsan di dalam rumah. Orang-orang berdatangan berusaha memadamkan api di rumahku. Tapi aku tak tahu itu semua.
* * *
    Aku berada di sebuah jalan yang begitu menyeramkan. Jalan itu tepat berada di sebuah puncak gunung yang sangat tinggi. Jalan itu hanya seperti jalan setapak. Jalan itu begitu panjang, sampai ujungnya pun tak kelihatan. Namun jalan itu sangatlah sempit. Hanya cukup untuk setengah lebar kakiku.
    Lebih mengerikan lagi, di kanan jalan itu, ada api yang begitu besar berkobar. Dan di sebelah kiri, ribuan binatang berbisa  sedang kelaparan dan siap menerkamku. Panas kurasakan begitu menyengat kulit. Rasanya begitu sakit.
    Aku mulai berjalan di jalan itu. Aku tak tahu harus kemana, tapi hanya ada dua pilihan, yakni maju dan mundur. Aku lebih memilih untuk maju saja. Aku berharap di depan sana aku dapat menemukan ujungnya atau setidaknya menemukan jalan keluar.
    Pelan sekali aku melangkah. Aku tak mau terperosok ke kanan maupun kiri. Yang berarti aku mati. Terbakar oleh api maupun tersengat ribuan binatang berbisa sama-sama menakutkan.
    Aku kaget dan terkejut sekali tatkala kulihat ada layar yang tiba-tiba muncul di depanku. Aku memandangnya dan layar itu mulai bergerak. Ada deretan gambar yang tersusun di sana. Dan, itu adalah kisah hidupku selama ini. Semenjak aku kecil hingga aku beranjak dewasa dan menjadi seperti ini.
    Ada perasaan takut dan malu yang bercampur jadi satu dalam hati. Aku yang telah terjerumus dalam lumpur  dosa. Aku yang sudah mendarah daging dengan dunia ilmu hitam. Meskipun dulunya aku cukup tahu dengan agama. Setidaknya aku pernah mengaji tentang agama Islam. Aku pernah hafal Juz ’amma. Aku juga pernah rajin shalat.
    Sewaktu kecil aku rajin ke masjid. Setiap hari mengaji dengan ulama yang ada di dekat rumahku. Aku bahkan sering tidur di masjid bersama teman-temanku. Aku yang sering mengajak mereka untuk mengaji. Untuk pergi ke masjid.
Namun itu semua hilang tatkala aku mulai dewasa. Justru imanku semakn melemah. Bukannya semakin membaik tapi sebaliknya. Awal mulanya ketika aku mulai berkenalan dengan miras, narkoba dan perempuan.
Aku memang tak sengaja mengenalnya. Aku menemukan sebungkus rokok di angkutan umum yang biasa aku tumpangi. Aku yang sedang kehabisan uang langsung mengambilnya.
Aku hisap satu persatu hingga satu bungkus itu habis. Ternyata itu adalah ganja. Akhirnya aku ketagihan. Dan dari situlah aku mulai mengenal miras dan narkoba. Aku bahkan pernah menjadi pengedarnya. Namun tak pernah sekalipun tercium oleh polisi. Aku memang bekerja dengan hati-hati dan rapi. Hari-hari berlimpah uang dan aku selalu berfoya-foya.
Hingga akhirnya aku menikah dan mempunyai rumah sendiri, bisnis haram itu masih tetap kujalankan. Hingga suatu saat aku ingin bertransaksi dengan seseorang dari ibukota. Nilai transaksi itu cukup besar. Kurang lebih 1 M. Aku sudah siapkan barangnya dan sudah kusimpan rapi dalam koper yang dibawa oleh anak buahku. Ia menyamar sebagai pemulung. Barang itu dibawanya dengan menggunakan karung lusuh, sehingga orang tidak curiga ketika dia menjamah daerah kumuh. Dari si Pembeli juga melakukan hal yang sama. Orang yang ia suruh pura-pura menjadi pemulung juga.
Tanpa kesulitan, transaksi dapat terlaksana dengan mulus. Tak ada hambatan. Tak ada polisi yang  tahu. Aman.
Malamnya, aku dan segenap anak buahku berpesta pora. Aku bawa uang kurang lebih seratus juta. Sisanya kutinggal di rumah. Di rumah ada istriku yang sedang hamil 5 bulan. Ia ditemani beberapa pembantu.
Malam begitu glamor. Semuanya puas menikmati pesta. Anak buahku tak ada  yang tak mabuk. Semuanya teler. Semua yang mereka inginkan terpenuhi. Baik itu minuman, perempuan, maupun kamar aku yang bayar. Mereka hanya tinggal menikmati saja.
Semuanya terhanyut dalam suasana yang glamor. Malam itu anak buahku benar-benar puas. Aku memang tak segan-segan untuk menyenangkan anak buahku jika berhasil dalam suatu proyek.
* * *
Jam 3 malam aku pulang ke rumah diantar sopir pribadiku. Aku sudah tak mau lagi mengemudi karena aku sudah tak bisa lagi konsentrasi. Ia yang kupercaya untuk mengemudikan mobil.
Sampai di jalan aku melihat ada kilatan cahaya yang berwarna merah menuju ke arah rumahku. Aku tak menggubrisnya. Aku sedang tak bisa konsen, jadi hanya setengah sadar saja.
Sampai di depan rumah sopirku membuka gerbang depan dan memasukkan mobil ke dalam. Aku lalu keluar dan segera menuju ke pintu. Kupencet bel. Berulang-ulang, tapi tetap tak ada jawaban maupun pintu terbuka. Sementara sopirku baru kembali dari menutup gerbang. Ia bertanya padaku
”Ada apa Bos? Kok belum masuk?”
Aku hanya menunjuk ke pintu. Ia segera paham. Ia mencoba membuka pintu itu. Namun tak kuasa. Akhirnya ia mendobraknya. Agak susah, tapi akhirnya bisa juga. Dan betapa kagetnya saat pintu itu terbuka. Kulihat ada semacam obor yang berkobar terbang di dalam rumah. Keadaan rumah juga sudah kacau. Rak-rak roboh dan lemari juga sudah roboh.
Cahaya itu segera melesat pergi dan meninggalkan rumahku. Namun ia sempat mengenai kepala sopirku dan membuatnya pingsan. Aku segera masuk. Dan betapa kagetku makin bertambah saat kulihat para pembantuku mati terpanggang  di lantai. Aku segera menuju ke kamar istriku dilantai 2. Keadaannya tak jauh berbeda dengan di bawah.
Aku segera masuk ke kamar dan betapa kaki ini serasa tak berada di tempat. Aku menggigil ketakutan saat kutemukan istriku terkapar di lantai kamar. Keadaannya sungguh mengenaskan. Mukanya hancur oleh api. Lidahnya terjulur keluar. Baju yang dipakainya seperti terbakar. Dan yang lebih mengenaskan lagi, dari selangkangannya mengalir darah banyak sekali. Perutnya yang selama ini besar sudah jadi kecil.
Aku terduduk lesu di sampingnya. Penuh dengan amarah, dendam dan kesedihan aku berteriak keras sekali menyebut nama istriku. Namun dia tak bergerak di dalam pelukanku.
Namun aku lebih terkejut lagi ketika kulihat brankasku sudah terbuka. Aku mendekatinya dan kulihat di dalamnya ada gumpalan darah yang sudah mulai berbentuk bayi. ”Anakku........!!!!” pekikku keras.
”Hai siapa yang telah melakukan ini semua?!!!”
”Tunggu pembalasan dariku. Aku tak akan diam. Aku bersumpah, tidak akan melepaskanmu! Siapapun kamu. Akan kuhabisi kau! Dasar biadab!!!” kemarahanku meledak-ledak dan menjadikan aku bicara tak jelas. Hanya umpatan dan sumpah serapah yang keluar dari mulutku.
Malam yang menjelang pagi itu menjadi malam yang paling mengenaskan dalam hidupku. Malam yang begitu mengerikan.
* * *
    Kejadian malam itu benar-benar memukul jiwaku. Aku tak lagi menjual ganja maupun narkoba. Uang yang kusimpan hasil bisnis telah habis. Hanya tersisa yang di tabungan saja. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Istri dan anakku telah menjadi korban pembantaian yang sadis. Bahkan pembantuku pun juga.
    Aku telah bersumpah di depan mayat istri dan anakku untuk membalaskan dendam mereka. Anakku yang belum tahu apa-apa juga telah menjadi korban kebiadaban orang yang belum tahu siapa.
Aku menjadi seorang pengelana. Aku tak lagi percaya dengan Tuhan. Aku merasa ia tak adil. Aku benar-benar meninggalkan itu semua. 
Aku mencari guru yang bisa memberiku ilmu. Ilmu untuk membalaskan dendam kesumatku yang begitu besar. Aku terus berkelana. Hingga kutemukan orang yang tepat. Ia tinggal di gunung Merapi. Dari dialah aku mulai belajar tentang ilmu hitam. Dialah pula yang mengajariku semuanya. Dia pula yang telah membantuku menemukan pelaku pembantaian itu. Aku puas.  Namun aku tak berhenti di situ.
Aku cari guru lain dan terus belajar hingga usiaku lebih dari setengah abad. Setelah merasa cukup, aku mulai menetap di desa tempat aku tinggal sekarang. Di sana aku mulai mengajarkan apa yang telah kudapat kepada penduduk hingga akhirnya si Kiai jelek itu datang dan merusak segala yang telah kutanamkan sejak aku di situ. Ialah yang telah mempengaruhi masyarakat.
* * *
Aku masih berada di jalan itu. Mungkin lebih tepat dikatakan jembatan kecil. Jembatan kecil yang beresiko pada maut.
Tiba-tiba aku mendengar suara yang begitu menggelegar ”Siapa kamu, dan ada apa kamu kemari?”
”A...aku tidak tahu. A...a...a...akk....aku tidak tahu!”
”Hai kamu, segeralah cari cahaya di dalam kegelapanmu ini. Jangan sia-siakan sisa waktu yang telah kuberikan padamu. Ingatkah kau pada gumpalan darah yang hampir menyerupai bayi yang kau temukan di brankasmu dulu? Dialah yang memintakan ampun atasmu. Dialah yang telah memohon untuk diberikan kesempatan sekali lagi  bagimu untuk menemukan cahaya itu. Manfaatkanlah kesempatan itu. Jangan kau sia-siakan kecuali kau sudah kebal dengan yang ada di kanan kirimu itu!”
Suara itu menghilang. Bersamaan dengan itu, api di kananku bergejolak dan hendak membakarku. Kurasakan panas yang sangat pada kulitku.  Lebih dari panasnya bara api yang biasa kutemukan di rumah.
Hewan-hewan yang berada di kiriku juga mulai naik dan menuju ke kakiku. Aku takut dan berlari di jembatan itu.
Tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang mendorongku seperti sebuah tendangan bersamaan dengan suara perlahan ”Sadarlah............   ayah!!!”
* * *
    Aku terbangun  dari pingsan. Kulihat sekeliling. Aku tak berada di rumah lagi. Aku berada di rumah orang lain. Di sebuah kamar yang begitu rapi dan bersih, wangi pula. Sangat berbeda dengan yang baru saja  aku lihat.
    Aku duduk di ranjang. Aku renungkan apa yang baru saja kulihat. Aku masih teringat kata-kata yang kudengar di sana, meskipun aku tak tahu darimana asal suara itu.
”Hai kamu, segeralah cari cahaya di dalam kegelapanmu ini. Jangan sia-siakan sisa waktu yang telah kuberikan padamu. Ingatkah kau pada gumpalan darah yang hampir menyerupai bayi yang kau temukan di brankasmu dulu? Dialah yang memintakan ampun atasmu. Dialah yang telah memohon untuk diberikan kesempatan sekali lagi  bagimu untuk menemukan cahaya itu. Manfaatkanlah kesempatan itu. Jangan kau sia-siakan kecuali kau sudah kebal dengan yang ada di kanan kirimu itu!”
    Dan juga kata terakhir sebelum alhirnya aku sadar, ”Sadarlah ..... Ayah!!!”
Aku masih duduk ketika pintu kamar dibuka oleh seorang wanita berjilbab sambil membawa minuman di nampan. Ia meletakkannya di atas meja yang berada di samping ranjang. Ia memandangku sejenak lalu berlari keluar. Sayup kudengar ia berteriak pada ayahnya, ”Ayah, dia telah sadar.”
Tak lama kemudian seorang lelaki yang sangat kukenal masuk ke dalam kamar. Aku kaget sambil menyebut namanya.
”Pak Kiai!”
”Mengapa Bapak menolong saya? Padahal Bapak tahu saya berniat membunuh Bapak?”
”Sudahlah Pak, sekarang bapak minum dulu. Itu sudah dibawakan minuman oleh anak saya, juga ada beberapa bungkus roti di meja. Tapi maaf, untuk nasi belum siap. Istri saya belum memasak. Ia sedang mencari sayur ke pasar” terangnya panjang lebar.
”Tapi saya masih penasaran Pak.”
”Sudahlah, masalah itu nanti kita bicarakan setelah Bapak minum atau setidaknya sarapan, walau hanya roti” ujarnya bijak.
Aku memandang sekeliling. Kemudian memandang ke arahku sendiri. Kotor. Masih bau. Agaknya sang Kiai tahu. Ia lalu menuju lemari dan mengambilkan baju untukku.
”Ini, pakailah dulu. Itu disana kamar mandinya” tangannya menunjuk ke arah pojok ruangan itu. Aku hanya menurut saja.
* * *
”Pak, sebenarnya apa yang terjadi kepada saya?” tanyaku setelah mandi dan ganti baju. Aku tak tahu mengapa, seolah aku sudah mengenal Kiai itu dan sudah akrab dengannya, meskipun sebelumnya aku sangat benci padanya.
”Begini Pak, pada waktu  malam itu, Bapak pingsan. Rumah kediaman bapak terbakar habis. Sekarang hanya tinggal puing-puingnya saja. Alhamdulillah saya dan warga bisa mengeluarkan Bapak dari rumah Bapak. Bapak masih pingsan hingga akhirnya saya bawa pulang ke rumah. Bapak masih juga belum sadar hingga satu minggu.
”Akhirnya saya minta persetujuan warga untuk membawa Bapak ke rumah sakit. Tapi mengingat jaraknya agak jauh, sehingga tidak jadi dibawa ke sana. Ya di sinilah Bapak dirawat. Setiap malam warga datang ke sini untuk  mendoakan Bapak. Semua berharap Bapak bisa segera sadar dan kembali beraktifitas bersama mereka. Karena walau bagaimanapun juga, Bapak adalah tetua di desa ini. Bapak juga yang telah membuat desa ini makin maju. Bapak juga yang telah menggagas akan diadakan sekolah di desa ini. Semua orang mengharapkan Bapak segera sadar. Dan akhirnya setelah 7 hari, Bapak sadar. Ini merupakan anugerah yang Kuasa. Jarang sekali orang bisa bertahan seperti Bapak. Ini semua atas kehendak Tuhan.”
”Terima kasih banyak Pak Kiai. Dan saya mohon maaf atas segala kesalahan saya selama ini. Saya tidak pernah menduga akan hal ini. Saya tidak menyangka Bapak sebaik ini pada orang yang sudah jelas ingin membunuh Bapak. Sekali lagi terima kasih banyak. Saya tak tahu harus bagaimana untuk membalas kebaikan Bapak”
”Sudahlah. Itu semua sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk saling tolong menolong.”
”Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Tapi saya mohon ijin untuk pulang dulu Pak. Saya ingin melihat rumah saya. Saya ingin kembali ke sana Pak.”
“Apakah tidak sebaiknya Bapak makan dulu, itu di belakang istri saya sedang memasak. Mungkin sebentar lagi matang. Lebih baik ditunggu sebentar Pak.”
”Ah terima kasih banyak. Saya sudah terlalu merepotkan Bapak. Mungkin lain kali saja Pak. Saya mohon ijin dulu Pak.”
”Ya sudah kalau begitu. Saya tidak berani memaksa.”
* * *
    Aku berjalan menyusuri setapak desa menuju ke rumahku. Pikiranku masih melayang pada kejadian yang seolah mimpi itu. Saat aku pingsan dan berada di jembatan yang begitu mengerikan. Dan yang paling membuatku bingung adalah suara itu. Suara yang tak kutahu darimana asalnya, tapi kutahu dan aku yakin itu benar.
Lalu apa yang harus kulakukan? Aku masih saja bingung.
Kudapati rumahku sudah tak ada lagi. Hanya tinggal puing-puing saja. Rumahku benar-benar hangus, hancur dan rata dengan tanah. Semua peralatanku untuk muja, untuk ritual dan semua yang ada di rumah telah terbakar habis.
Apalagi kata Pak Kiai aku sudah pingsan selama 7 hari. Berarti semua sudah lenyap. Hanya yang bersifat keras saja yang masih.
Kuamati puing-puing itu. Kini tempat yang selama ini aku pertahankan telah hilang. Tempat pemujaanku telah hilang. ”Apakah ini pertanda untukku bahwa aku harus segera bertobat?” pikirku dalam hati.
Lama aku memandangi tempat itu. Lahannya memang luas. Rata dan berada tepat di tengah-tengah desa. Dapat dengan mudah dijangkau oleh mobil. Karena memang praktekku sering didatangi oleh orang dari luar kota.
Kini semua hanya tinggal puing-puing saja.
* * * 
    Malam begitu pelan merambat. Aku masih terhanyut dalam perenungan. Aku masih bimbang dengan apa yang terjadi padaku. Aku masih belum yakin sepenuhnya akan apa yang telah aku alami. Aku masih bingung dengan itu semua. Dengan pingsanku yang katanya 7 hari, padahal aku merasa hanya sebentar sekali. Mimpi atau pengalamanku telah berada di tempat yang sangat aneh. Apakah itu yang dinamakan neraka? Aku masih tak mengerti. Dan yang membuatku makin bingung adalah suara itu. Darimana asalnya, siapa dan kenapa?
    Aku masih dengan kebimbangan itu saat kuketuk rumah Kiai 3 kali.
    Lalu seorang perempuan membukakan pintu untukku. Perempuan yang sudah kepala 3 lebih umurnya. Dialah istri Pak Kiai.
    Aku masuk dan menunggu Pak Kiai yang katanya sedang shalat Isya. Agak lama aku menunggu hingga akhirnya Pak Kiai keluar juga.
    ”Pak, sebenarnya saya malu untuk mengatakan hal ini kepada Bapak. Namun kalau tidak saya utarakan saya takut nanti malah jadi tidak baik. Tapi sebelumnya saya minta maaf jika kedatangan saya mengganggu Pak Kiai. Mungkin seharusnya Pak Kiai beristirahat, karena ada saya jadi terganggu.”
    ”Oh tidak. Tidak apa-apa, saya justru senang jika bisa membantu Bapak. Bukankah kita harus saling tolong menolong? Bapak sendiri dulu juga sering menolong warga yang kesusahan. Baik itu karena sakit atau hal lain.”
”Begini Pak, saya ingin cerita tentang masa lalu saya. Saya ingin menyampaikan siapa sebenarnya saya dan mengapa saya bisa sampai seperti ini. Dan setelah itu, saya ingin minta pendapat Bapak untuk menentukan bagaimana sebaiknya karena saya masih bimbang dan ragu. Dan saya menganggap Bapak bisa untuk saya mintai pendapat tentang ini.”
Aku menceritakan tentang masa laluku ketika aku masih kecil, beranjak dewasa hingga aku menjadi seperti ini. Tak lupa pula kusampaikan tentang kebrutalanku dimasa remaja. Sampai pada pembantaian di malam itu. Dan dendam yang terus memuncak dan berkobar.
Pak Kiai menyimak dengan seksama. Terkadang ia menganggukkan kepala, kadang ia geleng-geleng kepala. Ia seolah tak percaya dengan apa yang kusampaikan padanya. Seolah ia tak percaya bahwa aku dulunya seperti itu.
”Nah, begitulah saya dulu Pak, dan akhirnya saya jadi seperti ini.’
”Saya turut prihatin dengan apa yang Bapak alami. Tapi saya maklum kalau Bapak jadi seperti ini. Saya sendiri tidak tahu apa yang akan saya lakukan jika saya mengalami hal yang seperti itu. Namun apapun alasannya, hal itu tidak pernah dibenarkan dalam agama.
”Minum minuman keras atau dalam agama disebut khamar adalah dosa besar. Apalagi ditambah dengan Narkoba dan wanita.  Dosanya berlipat-lipat.
”Namun sebesar apapun dosa kita, Allah adalah Maha Pengampun dosa. Ia selalu mau mengampuni dosa yang telah kita perbuat walau sebesar apapun dosa itu. Syaratnya adalah kita mau bertobat dari dosa itu sendiri dengan taubatan nasuha. Yaitu taubat yang sebenar-benarnya.
”Lalu timbul pertanyaan, bagaimana taubat yang sebenar-benarnya itu? Pertama, yakni berjanji dengan sepenuh hati untuk tidak mengulanginya lagi dan menyesal atas apa yang telah diperbuatnya.
”Janji disini tidak hanya sekedar janji, tapi janji yang diucapkan dengan sungguh-sungguh dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh pula. Seprti Bapak bersumpah dulu untuk membalaskan dendam kepada pengirim santet itu. Meskipun harus menembus lautan, mendaki gunung tetap Bapak lakukan. Namun bukan janji itu yang baik. Hanya caranya seperti itu. Maksudnya mau melaksanakan janji itu walau rintangan menghadang.
”Kalau niat buruk saja ada halangannya apalagi dengan niat yang baik. Tentu lebih banyak halangannya. Oleh karena itu dibutuhkan semangat dan niat yang kuat untuk melaksanakannya.
”Yang kedua yaitu memohon ampun kepada Allah dengan permohonan yang setulus-tulusnya. Tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Ikhlas dari dalam hati yang terdalam.
    ”Dosa yang telah kita perbuat itu kalau tidak kita mohonkan ampun kepada Allah tidak akan diampuni. Karena Allah tidak akan mengubah keadaan seseorang/suatu kaum kecuali dia mau mengubahnya. Seperti itu juga dosa. Jika tidak ada upaya untuk minta ampunan, maka Allah tidak akan mengampuni.
    ”Dan yang terakhir adalah dengan selalu berusaha untuk berbuat kebaikan. Amal yang baik dapat menutupi amal yang buruk. Jika kamu telah mempunyai dosa, maka perbanyaklah amal baikmu agar setidaknya dosa itu dapat tertutupi.
    ”Bukan maksud saya untuk menggurui, tapi sekedar mengingatkan bahwa dendam itu tak ada baiknya. Tak ada mashlahat dari dendam. Yang ada justru mudharat. Bayangkan jika Bapak punya dendam kepada seseorang. Lalu Bapak berusaha sekuat tenaga untuk membunuhnya atau mungkin melukainya atau menyakitinya. Bapak mungkin bisa puas dengan itu semua.
    ”Namun terpikirkah oleh Bapak kalau ia juga punya keluarga. Punya anak. Maka suatu hari anaknya itu akan membalaskan dendam itu kepada Bapak. Dan begitu seterusnya, anak Bapak akan balas dendam lagi. Lalu cucu. Dan seterusnya sampai akhir dunia tak akan ada selesainya.
    ”Maka dari itu, lebih baik kita mengalah. Mengalah bukan berarti kalah. Terkadang dengan mengalah orang bisa dianggap menang. Atau setidaknya bisa meredakan masalah. Tentu tidak akan ada dendam  jika kita mau mengalah. Kemudian saling introspeksi diri, apa kesalahan saya sehingga orang lain berbuat seperti itu kepada saya.
    ”Jika hal itu bisa tertanam pada diri manusia, maka tak akan dendam ataupun permusuhan. Masing-masing akan berusaha untuk mengintrospeksi diri sendiri sehingga makin hari yang ada adalah kekompakan, jiwa korsa yang kuat. Kekeluargaan yang begitu kental.
    ”Terus masalah mimpi atau yang Bapak sebut tadi pengalaman ke alam lain itu, menurut saya, itu adalah salah satu cara Allah mengingatkan hambanya.
    ”Tentang jalan yang sangat sulit dan di kanan kirinya terdapat api dan hewan berbisa, itu adalah gambaran neraka. Maaf, mungkin Bapak dianggap sudah memiliki dosa yang besar dan belum bertaubat, maka Allah mengingatkannya lewat mimpi itu. Itu artinya bahwa Bapak masih disayang oleh Allah. Kalau Bapak dibiarkan saja, mungkin nanti berakibat lebih buruk. Namun ini dengan diperingatkan, diharapkan Bapak bisa sadar dan mau bertaubat.
    ”Terus suara yang Bapak dengar tadi, mungkin itu adalah cara yang digunakan Allah untuk mengingatkan Bapak. Karena Bapak sudah tidak memiliki kepercayaan kepada orang lain, maka yang digunakan adalah putra Bapak sendiri yang belum punya dosa apapun. Karena dia meninggal ketika dia masih bayi. Bahkan belum saatnya lahir.
    ”Dan yang pasti Bapak menyayanginya bukan? Nah itulah mengapa yang bapak dengar suaranya menyebut-nyebut nama ”ayah”. Karena hanya dialah anak Bapak satu-satunya. Bukankah Bapak tidak menikah lagi setelah itu? Ya meskipun dulu Bapak sering gonta ganti pasangan, tapi kan yang sudah jelas dia. Bukan orang lain.
    ”Sekarang saya sarankan Bapak untuk melaksanakan taubatan nasuha. Supaya arwah keluarga Bapak yang telah meninggal dapat diterima dengan baik di sisi-Nya dan dapat meninggal dengan tenang di alam sana.
    ”Selain itu, bukankah Bapak dulu juga seorang yang rajin beribadah, berarti bapak sudah tahu tentang agama. Jadi tinggal menambah lagi, tidak memulai dari awal. Dan itu pasti lebih mudah daripada Bapak memulainya dari awal.”
    Aku mendengarkannya dengan seksama. Tak satupun terlewatkan olehku. Aku mulai terbuka dan sadar akan kesalahanku selama ini. Ada keinginan yang kuat untuk berubah, untuk memperbaiki semua yang telah lalu dan mengubahnya dengan yang lebih baik.
    ”Pak, baiklah kalau begitu. Namun sekarang bagaimana caranya saya untuk mengawalinya?”
    ”Baiklah, karena selama ini Bapak telah meyakini yang tidak benar atau bisa dikatakan musyrik, maka yang pertama kali Bapak lakukan adalah mengislamkan kembali dengan mengucapkan 2 kalimah syahadat. Nanti baru setelah itu bisa dilanjutkan dengan yang selanjutnya.”
    ”Baiklah Pak, karena sudah malam, maka mungkin lebih baik besok pagi setelah Shalat Shubuh saja. Untuk malam ini saya pulang dulu. Dan besok pagi bimbing saya untuk menjadi muallaf.”
    ”Alhamdulillah. Besok pagi saya tunggu Bapak di masjid. Saya akan umumkan kepada para jamaah untuk menjadi saksi keislaman Bapak.”
    ”Baiklah, saya setuju. Doakan saya agar kuat menghadapi ujian yang akan datang. Karena saya yakin setelah saya masuk Islam akan ada hambatan dan rintangan yang menghadang.
    ”Saya memang belum menjalaninya. Namun saya yakin bahwa pasti akan ada banyak cobaan. Kalau sumpah untuk keburukan saja banyak cobaannya, apalagi untuk niat baik seperti itu, pasti akan lebih banyak ujiannya. Jadi saya mohon Pak Kiai untuk mendampingi saya. Untuk menguatkan saya.”
    ”Insya Allah saya bantu sekuat tenaga saya. Selama saya bisa, maka akan saya bantu.”
    ”Kalau begitu saya ijin pulang dulu Pak, Hari sudah malam, tak baik jika diteruskan. Nanti Bapak jadi tidak beristirahat.”
    ”Sebaiknya menginap di sini saja Pak, biar besok pagi bisa lebih mudah.”
    ”Terima kasih banyak, tapi saya tidak ingin merepotkan lagi. Permisi Pak”
    ”Ya sudah, hati-hati di jalan. Jangan lupa besok setelah shalat Shubuh.”
    ”Ya Pak. Selamat malam.” ucapku mengakhiri pembicaraan sambil keluar rumah.
Pak kiai mengantarkan aku sampai di depan pintu. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih kepada Pak Kiai.
* * *
    Pagi itu menjadi awal mula yang begitu cerah dalam hidupku. Pagi yang sedikit mendung tak mempengaruhi cerahnya hati ini. Hati yang selama ini berkarat telah menemukan kembali jalan yang benar. Untuk kemudian kembali mengkilap seperti perak yang selalu digosok.
    Hari-hari kulalui dengan penuh rasa damai yang terus bersenandung. Aku senantiasa dibimbing oleh Pak Kiai untuk menjadi lebih baik. Beramal dan beribadah sesuai syariat Islam. Dan betapa nikmat kurasakan hidup ini. Bebas dari dendam. Bebas dari rasa takut terkalahkan oleh orang lain. Bebas dari tekanan batin. Bebas dari rasa benci, iri dan dengki. Indahnya hidup ini jika benar-benar dihiasi oleh nuansa Islam.
Tanpa ada paksaan dari pihak manapun, aku mengusulkan untuk menjadikan lahan yang dulu kugunakan untuk muja untuk menjadi sekolah. Namun sebelum itu aku melaksanakan mujahadah bersama Pak Kiai dan warga agar makhluk kasat mata yang menghuni tempat itu maupun yang dulu pernah aku gunakan untuk melaksanakan ritual bisa pergi dan tidak mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
Aku juga ikut memberikan sumbangan untuk sekolah itu. Aku juga mencari tambahan dana dengan mengajukan proposal ke Kantor Kecamatan dan Kabupaten demi terlaksananya rencana pembangunan sekolah demi kemajuan pendidikan di desa tempat tinggalku.
Di usiaku yang senja ini, aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Berusaha untuk melaksanakan syariat agama dengan sebenar-benarnya.
”Alhamdulillahirabbil’alamin.
Terima kasih Ya Allah, Engkau telah berikan petunjuk bagi hamba-Mu ini.”
”Rabbana atina fiddunya khasanah wafil akhirati khasanah wakina ’ adzabannar”
    Malam mulai merambat dan adzan dikumandangkan. Aku segera ambil air wudhu dan shalat memenuhi seruan Yang Kuasa. Dan berlama-lama berkencan dengan-Nya menentramkan hati ini.


March, 12th  2009 : 09.35 PM
Central Djakarta